
Saya sering ditanya teman yang nggak terlalu ngikutin anime: "Isekai lagi? Emang nggak bosen?" Jujur, pertanyaan itu wajar banget. Tapi setiap kali saya coba jawab dengan serius, saya selalu balik ke satu kesimpulan yang sama: isekai bukan cuma genre yang bertahan karena kebetulan, tapi genre yang terus menemukan cara buat relevan, bahkan di tengah kritik yang menghantuinya bertahun-tahun.
2026 jadi tahun yang pas banget buat ngebahas ini, karena musim panas kemarin literally jadi salah satu musim paling padat isekai dalam sejarah jadwal tayang anime.
Angka yang Bikin Kamu Ngangkat Alis: Isekai di 2026

Musim panas 2026 aja ada sekitar 15 judul isekai yang tayang bersamaan—mulai dari nama-nama besar kayak Mushoku Tensei Season 3, Re:Zero Season 4, TenSura Season 4, Saga of Tanya the Evil Season 2, sampai judul-judul yang lebih santai seperti Ascendance of a Bookworm, Trapped in a Dating Sim: The World of Otome Games Is Tough for Mobs, dan The Exiled Heavy Knight Knows How to Game the System. Musim semi sebelumnya pun nggak kalah padat, memadukan sekuel-sekuel besar dengan judul baru yang katanya mulai berani coba-coba format cerita berbeda.
Secara industri, genre ini sekarang diperkirakan menyumbang sekitar 30 judul baru per tahun, dan sempat menyentuh angka mendekati 40% dari total lineup anime musiman di puncak popularitasnya. Menariknya, dominasi ini nggak selalu linear di dalam genrenya sendiri. DMM TV, salah satu platform streaming terbesar di Jepang, sempat merilis laporan ranking yang menobatkan TenSura sebagai isekai paling banyak ditonton sampai tuntas di musim semi 2026—ngalahin Re:Zero, yang justru lagi tenar-tenarnya berkat rating episode nyaris sempurna di IMDb. Buat saya, ini bukti kecil kalau persaingan di dalam genre ini sendiri masih ketat, bukan sekadar satu formula yang laku terus tanpa tantangan.
Kritik yang (Sayangnya) Nggak Salah-Salah Amat
Saya nggak akan bela isekai membabi buta, karena kritik terhadap genre ini emang punya dasar yang kuat. Trope "truck-kun" yang menabrak protagonis di menit-menit awal udah jadi bahan meme saking seringnya dipakai. Belum lagi formula protagonis overpowered dengan "cheat skill" yang bikin ketegangan cerita hilang, atau dinamika harem yang sering nempatin karakter perempuan cuma jadi pelengkap tanpa arc sendiri. Tahun 2024 aja tercatat lebih dari 30 judul isekai baru rilis dalam satu tahun, dan banyak yang jujur susah dibedain satu sama lain.
Yang bikin isu ini makin serius, kritik ini sekarang bukan cuma keluhan fans di media sosial. Laporan finansial Kadokawa untuk tahun fiskal 2026 menunjukkan profitabilitas divisi penerbitan dan IP mereka anjlok 51,6% dibanding tahun sebelumnya, mendorong perusahaan membentuk komite internal khusus buat memperketat standar kualitas dan mulai menjauh dari formula fantasi generik yang selama ini jadi andalan. Dengan kata lain, oversaturasi ini akhirnya jadi masalah bisnis, bukan cuma masalah selera penonton.
Di sisi lain, saya juga sadar fatigue ini nggak dialami semua orang secara sama. Buat penonton yang udah nonton isekai selama bertahun-tahun, pola ceritanya memang terasa berulang. Tapi buat penonton baru yang baru mulai eksplor anime di 2026, formula "protagonis biasa dapat kekuatan dan berkembang pelan-pelan" tetap terasa segar, karena mereka belum kena paparan berulang kayak kita yang udah nonton genre ini dari dekade lalu.
Judul yang Berhasil Bikin Formula Lama Terasa Baru
Ini bagian favorit saya, karena di sinilah letak alasan sebenarnya kenapa saya nggak pernah benar-benar bosan sama isekai. Beberapa judul berhasil ambil kerangka dasar genre ini, lalu membelokkannya jadi sesuatu yang jauh lebih menarik.
Overlord jadi contoh paling jelas soal membalik formula: alih-alih jadi pahlawan yang diselamatkan dan berjuang jadi kuat, protagonisnya, Ainz Ooal Gown, justru sudah jadi entitas paling dominan sejak awal cerita. Fokus ceritanya bergeser dari "bagaimana caranya menang" ke "apa konsekuensi dari kekuasaan absolut", sudut pandang yang jarang dieksplor genre ini.
Re:Zero juga selalu jadi rujukan saya kalau ada yang bilang isekai selalu soal power fantasy. Subaru nggak punya kekuatan tempur sama sekali—kemampuan uniknya, Return by Death, justru jadi sumber trauma psikologis berulang, bukan keunggulan yang bikin hidup jadi mudah. Ini yang bikin serinya kerasa lebih dekat ke psychological horror dibanding petualangan seru biasa.
Ada juga Trapped in a Dating Sim: The World of Otome Games Is Tough for Mobs, yang subversinya lebih halus: protagonisnya bukan karakter utama dalam dunia game otome yang dia masuki, melainkan karakter "mob" latar belakang. Dia menang bukan lewat kekuatan brute force, tapi lewat pengetahuan strategis soal jalan cerita game yang dia mainkan sebelumnya. Kombinasi ini bikin formula "reinkarnasi ke dunia game" terasa lebih segar karena stake-nya bukan soal jadi paling kuat, tapi soal bertahan hidup dengan cerdik.
Rekomendasi Isekai di Luar Radar Mainstream
Kalau kamu udah bosan sama nama-nama besar yang itu-itu aja, ini beberapa judul yang menurut saya layak kamu lirik:
- Tsukimichi: Moonlit Fantasy — protagonisnya justru dianggap "gagal" oleh dewa yang mensummon dia, lalu malah membangun kekuatan bareng ras monster dan makhluk non-manusia yang biasanya jadi musuh di isekai lain. Trope "dipuja jadi pahlawan" dibalik sepenuhnya.
- Farming Life in Another World — nggak ada grinding monster atau pertarungan besar di sini. Fokusnya ke membangun komunitas dan bercocok tanam, isekai versi "slow living" yang cocok buat kamu yang pengen nonton sesuatu yang santai tanpa kehilangan world-building yang solid.
- Campfire Cooking in Another World with My Absurd Skill (season 3-nya dikonfirmasi tayang 2026) — skill unik protagonisnya cuma soal memasak, tapi justru dari situ ceritanya membangun kehangatan lewat makanan dan relasi antar karakter, bukan lewat pertarungan.
- The Strongest Job is Apparently Not a Hero or a Sage, but an Appraiser (Provisional)! — protagonisnya menang bukan lewat otot, tapi lewat kemampuan menilai barang dan situasi secara strategis. Cocok buat kamu yang capek sama formula "kekuatan fisik di atas segalanya".
Kesimpulan: Isekai Nggak Mati, Cuma Lagi Diseleksi Alam
Buat saya, isekai nggak bakal "mati" karena formulanya sendiri. Yang mati cuma versi generiknya—judul-judul yang cuma ikut tren tanpa berani ambil risiko kreatif. Selama masih ada kreator yang mau memperlakukan kerangka isekai sebagai alat bercerita, bukan sekadar daftar checklist power fantasy, saya yakin genre ini bakal terus punya tempat, berapa pun banyaknya judul baru yang bikin timeline kita penuh tiap musim.
Kamu sendiri gimana, masih semangat ngikutin isekai baru tiap musim, atau udah mulai selektif? Share pengalaman kamu di kolom komentar.