
Saya baru sadar ada yang berubah dari kebiasaan baca saya waktu ngecek riwayat aplikasi di HP beberapa minggu lalu. Dulu, waktu senggang saya biasanya kepake buat buka tankobon digital, membalik "halaman" satu-satu sambil ngikutin alur panel dari kanan ke kiri kayak kebiasaan baca manga pada umumnya. Sekarang? Jempol saya lebih sering scroll ke bawah tanpa henti, ngikutin satu episode manhwa penuh warna sampai tiba-tiba udah setengah jam berlalu tanpa saya sadari.
Saya nggak sendirian. Pergeseran kebiasaan ini ternyata bukan cuma perasaan personal saya doang—ini tren yang datanya juga mendukung, dan menurut saya penting buat dibahas serius, bukan cuma sebagai obrolan santai antar pembaca komik.
Data yang Nunjukkin Manhwa Emang Lagi Naik Daun

Secara nilai pasar, industri komik global diperkirakan menyentuh angka 18,63 miliar dolar AS di 2026, dengan manhwa dan webtoon jadi pendorong utama inovasi di sisi digital. Pasar webtoon secara khusus tercatat sekitar 6,58 miliar dolar di 2025 dan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 18,6% sampai 2035. Bandingkan dengan segmen webtoon di dalam industri manga sendiri yang diperkirakan tumbuh 35,62% CAGR sampai 2031—jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan manga format tradisional secara keseluruhan.
Platform WEBTOON aja sekarang punya lebih dari 24 juta kreator dan hampir 170 juta pengguna aktif bulanan dari lebih 150 negara. Di Korea Selatan sendiri, 54% pengguna webtoon membaca setiap minggu, dan Gen Z plus milenial muda mendominasi sampai 75% dari total basis pembaca webtoon di seluruh dunia. Dari sisi genre, manhwa romance konsisten jadi yang paling banyak dicari dibanding fantasi atau aksi, nunjukkin pergeseran demografi pembaca yang lebih luas dibanding era manga shonen yang dulu didominasi pembaca laki-laki muda.
Yang bikin saya makin yakin ini bukan tren sesaat: format digital sekarang menguasai 72,12% pangsa pasar manga secara keseluruhan, dan channel online memegang 67,9% dari total pendapatan. Cetak masih relevan, tapi arah pertumbuhannya jelas condong ke digital, dan di ranah digital itulah manhwa punya keunggulan format yang manga klasik nggak punya secara native.
Beda Fundamental: Long Strip vs Manga Tradisional
Perbedaan paling kentara ada di cara membacanya. Manga tradisional dibaca dari kanan ke kiri, halaman per halaman, warisan langsung dari tategaki, tradisi tulisan vertikal Jepang. Sebagian besar masih hitam-putih, dengan pengecualian di halaman-halaman berwarna tertentu. Manhwa sebaliknya: dibaca dari atas ke bawah tanpa henti, full color di hampir semua panel, dan dirancang secara native buat layar ponsel—bukan hasil adaptasi dari format cetak.
Cara rilisnya juga beda jauh. Manga klasik terikat jadwal majalah mingguan atau bulanan, lalu dikompilasi jadi tankobon setelah beberapa chapter terkumpul. Manhwa lebih fleksibel soal monetisasi: episode baru biasanya gratis dan didukung iklan, sementara pembaca yang mau baca lebih cepat bisa bayar lewat sistem "fast pass" buat buka episode berikutnya lebih awal. Model ini bikin popularitas sebuah judul bisa langsung berdampak ke pendapatan kreatornya dalam hitungan hari, bukan menunggu siklus penjualan volume fisik.
Satu hal lagi yang sering luput dari obrolan soal beda format: manhwa dirancang dari awal buat dibaca satu tangan sambil scroll pakai jempol. Manga digital, meskipun udah dibaca lewat aplikasi, secara struktur tetap mewarisi logika "halaman"—yang artinya masih ada jeda kecil tiap kali kamu pindah ke panel atau halaman berikutnya.
Kenapa Format Scroll Terasa Lebih Adiktif
Ini bagian yang menurut saya paling menarik buat dianalisis, karena jawabannya nggak cuma soal selera, tapi soal bagaimana format ini memang dirancang mengikuti kebiasaan digital kita yang udah terbentuk duluan lewat media sosial. Scroll vertikal tanpa jeda halaman itu persis kayak gerakan yang udah otomatis kita lakukan di feed Instagram atau TikTok—nggak ada "loading" mental buat pindah konten, semuanya mengalir.
Kreator manhwa juga punya kontrol dramatis yang unik lewat jarak antar panel. Ruang kosong yang sengaja dipanjangin bisa dipakai buat membangun ketegangan sebelum reveal besar, sesuatu yang jauh lebih sulit direplikasi di format halaman manga yang terbatas ruang fisiknya. Ditambah lagi, episode-episode manhwa didesain saling menyambung—begitu satu episode selesai, kamu otomatis didorong ke episode berikutnya tanpa banyak friksi.
Riset soal perilaku baca digital juga mendukung ini: studi soal konten komik digital serial menunjukkan struktur berbasis episode meningkatkan retensi pembaca, dan rata-rata sesi baca komik digital di ponsel bisa mencapai sekitar 48 menit sekali duduk. Kombinasi struktur episodik, cliffhanger di setiap akhir episode, dan sistem gratis-dengan-opsi-bayar ini pada dasarnya menciptakan siklus reward yang mirip dengan mekanisme yang bikin media sosial susah ditinggalin—dan itu, jujur aja, bikin manhwa terasa jauh lebih "nagih" dibanding sekadar baca chapter manga tiap minggu.
Dampaknya ke Gaya Bercerita Mangaka Jepang
Pergeseran ini nggak cuma dirasain pembaca kayak saya—industri manga Jepang sendiri udah mulai merespons secara serius. Shueisha, penerbit di balik Shonen Jump, meluncurkan Jump Toon di 2024 lewat anak perusahaan barunya, Toon Factory, khusus buat memproduksi dan mendistribusikan komik dalam format vertical scroll. Beberapa judul populer seperti Haikyu!! bahkan dapat versi webtoon resmi lewat platform ini, di luar format manga aslinya. Kadokawa juga ikut meluncurkan judul-judul manga format vertical scroll buat bersaing langsung di ranah webtoon.
Yang menurut saya jadi sinyal paling kuat soal keseriusan pergeseran ini: judul-judul manga klasik yang udah legendaris, seperti Berserk dan One Punch Man, sekarang punya adaptasi resmi dalam format webtoon berdampingan dengan versi manga aslinya. Ini bukan proyek sampingan kecil-kecilan—ini keputusan bisnis, mengingat pasar webtoon global diproyeksikan mencapai 27,5 miliar dolar AS di 2028, angka yang disebut enam kali lipat dari nilai pasar manga Jepang di 2022.
Buat saya, ini nunjukkin sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tren format: mangaka dan penerbit Jepang mulai belajar merancang cerita dengan mempertimbangkan ritme scroll, bukan cuma ritme halaman. Pacing, penempatan cliffhanger, bahkan keputusan soal pewarnaan sekarang dipertimbangkan dari awal proses kreatif, bukan cuma ditempel belakangan buat kebutuhan adaptasi digital.
Kesimpulan: Bukan soal Siapa Menang, tapi Kebiasaan yang Berubah
Saya nggak akan bilang manhwa "lebih baik" dari manga, atau sebaliknya—keduanya punya kekuatan storytelling yang beda dan nggak selalu bisa dibandingkan apple-to-apple. Tapi yang jelas, kebiasaan baca kita sebagai penikmat komik udah bergeser, dan pergeseran itu didorong oleh format yang memang dirancang lebih cocok sama cara kita menghabiskan waktu luang lewat ponsel hari ini. Industri manga Jepang sendiri udah sadar soal ini, dan responsnya—entah lewat Jump Toon atau adaptasi webtoon dari judul-judul klasik—nunjukkin kalau garis batas antara dua format ini bakal makin kabur ke depannya.
Kamu sendiri gimana, masih setia baca manga format halaman, atau udah ikut pindah ke kebiasaan scroll tanpa henti kayak saya? Cerita di kolom komentar, ya.